Ahmad Yani

Ahmad Yani adalah perwira ABRI yang penuh prestasi. Waktu penculikan, ia sempat memberikan perlawanan terakhirnya pada PKI.

ahmad yani

Pahlawan Revolusi: Ahmad Yani. Foto: Koleksi Badan Pembina Pahlawan Pusat)

Selalu Suka Belajar
Ahmad Yani dilahirkan pada 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah. Ayahnya bernama M. Wongsorejo. Ibunya bernama Murtini. Yani adalah anak sulung dari tiga bersaudara.

Sewaktu masih bersekolah, Yani adalah murid yang cerdas. Sayang ketika di AMS (setara dengan SMA sekarang), Yani harus keluar sekolah karena pecah Perang Dunia II. Akhirnya di tahun 1940, Yani pun mendaftarkan diri sebagai aspiran pada Dinas Topografi Militer Belanda.

Selama enam bulan Yani mengikuti pendidikan militer di Malang. Selesai pendidikan, pangkatnya adalah Sersan Cadangan Bagian Topografi.

Pada masa penjajahan Jepang, Yani mengikuti pendidikan militer Jepang di Magelang. Prestasinya begitu gemilang sampai-sampai Kapten Yanagawa, pelatih Jepang, menaruh perhatian khusus pada Yani. Ketika lulus, Yani pun menjadi siswa terbaik. Sebagai penghargaan, Yani diberikan sebilah pedang samurai.

Sepak Terjang Kemiliteran
Yani kembali ke Magelang dan diangkat sebagai Komandan Dai Ici Syodan Dan San Cudan dari Dai Ni Daidan (Komandan Seksi 1 Kompi 3 Batalyon 2). Dari saat itu, karir militernya terus menanjak.

Pada September 1948, pangkat Ahmad Yani dinaikkan menjadi Letnan Kolonel. Jabatannya pun menjadi Brigade Diponogoro Divisi III.

Beberapa hari setelah Yani diangkat menjadi Komandan Brigade Diponogoro, negara dirongrong oleh pemberontakan PKI yang berpusat di Madiun. Pada peristiwa ini, Yani mengirimkan Batalyon Suryosumpeno untuk menumpas pasukan pemberontak di daerah sekitar Prurwodadi dan Grobogan.

Dalam karirnya, Yani banyak berhadapan dengan berbagai pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah di tanah air. Kemampuannya menyelesaikan setiap tantangan menjadikan karirnya terus menanjak. Yani pun diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Ketika Yani menjadi KSAD, kekuatan PKI di bidang politik sudah sangat besar. Angkatan Darat dilihat oleh PKI sebagai musuh utama mereka. PKI pun mengusulkan pembentukan Angkatan Kelima ke Presiden Soekarno. Anggotanya adalah buruh dan tani yang dipersenjatai.

Yani menolak keras usaha PKI ini. Ia juga menolak usul Nasakomisasi ABRI dari PKI. Sikap Yani tersebut membuatnya semakin dimusuhi oleh PKI. Puncak pemberontakan PKI terjadi pada tanggal 30 September 1965.

Peristiwa tersebut dikenal dengan nama Gerakan 30 September/PKI atau G30S/PKI.
Tujuan gerakan ini adalah menculik lalu membunuh pejabat teras Angkatan Darat, termasuk Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Malam Penculikan
Pada tanggal 1 Oktober pukul 05.00 WIB, rumah Yani di Jalan Lembang, Jakarta didatangi gerombolan pemberontak. Mereka menyamar sebagai pasukan pengawal Istana dengan seragam Cakrabirawa.
Penyamaran ini tidak menimbulkan kecurigaan Yani.

Saat itu, ia diberitahukan untuk menghadap Presiden di Istana. Yani berkata bahwa ia akan mandi dahulu sebelum berangkat. Namun seorang anggota gerombolan melarangnya. Ketika Yani berniat cuci muka saja, itu pun dilarang.

Yani marah dengan perlakuan ini. Ia pun menempeleng dan membentak seorang gerombolan yang berdiri di dekatnya. Saat itulah Sersan Giyadi melepaskan tembakan ke arah Yani yang sedang membelakanginya.

Gerombolan menyeret tubuh Yani yang berlumuran darah ke luar rumah, membawanya dengan truk, lalu melemparkannya ke sumur tua di Lubang Buaya.

Pada tanggal 3 Oktober 1965, mayat para perwira tinggi dalam sumur ditemukan pemerintah. Jenazah Ahmad Yani dan perwira lainnya dimakamkan tempat pada tanggal 5 Oktober 1965 di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Hari itu bertepatan dengan HUT ABRI ke-20.

Jasa Ahmad Yani bagi negara membuatnya ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Jenderal.
(Kidnesia/Sumber: Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Jilid II)

*Tahukah kamu?
Nama Yani diberikan oleh seorang warga negara Belanda bernama Hulstyn. Ia adalah majikan ayahnya. Berkat bantuan Hulstyn, Ahmad Yani bisa bersekolah di sekolah-sekolah Belanda.

comments powered by Disqus