I Gusti Ngurah Rai
Makam_I_Gusti_Ngurah_Rai (wikimedia.org)

Makam I Gusti Ngurah Rai (sumber: wikimedia.org)

Kidnesia.com - I Gusti Ngurah Rai memiliki pasukan yang bernama "Ciung Wenara" melakukan pertempuran terakhir yang terkenal dengan nama Puputan Margarana.

Puputan, dalam bahasa Bali berarti "habis-habisan", sedangkan Margarana berarti "pertemputan di Marga", Marga adalah sebuah desa ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali.

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan.

Detil perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat disimak dari beberapa buku, seperti "Bergerilya Bersama Ngurah Rai" (Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraih "Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993", buku "Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para Sahabat Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai" (Denpasar: Upada Sastra, 1995), atau buku "Puputan Margarana Tanggal 20 November 1946" yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI(anumerta). Namanya kemudian diabadikan dalam nama bandar udara di Bali, Bandara Ngurah Rai.

Selain itu, beliau juga diberikan penghargaan lain, yakni Pahlawan Nasional Indonesia.

i gusti dalam uang (suluhbali.co)

Contoh uang pecahan 50 ribu rupiah (sumber: suluhbali.co)

O ya, bagi kamu yang ingin mengetahui wajah beliau... caranya mudah. Kamu hanya perlu meminjam uang rupiah pecahan 50 ribu. Kenapa? Karena di lembaran uang rupiah pecahan 50 ribu itu ada wajah I Gusti Ngurah Rai.

O ya, I Gusti Ngurah Rai ini meninggal dalam usia yang cukup muda, lo, yakni 29 tahun.

Teks: Indhisa, Foto: sejarahbali.com, suluhbali.co, wikimedia.org

________________________________________________________________________________

Artikel Terkait:

1. Bali

2. Kampung Bali di Ujung Sumatera

3. Kisah Sedih Anggur Bali

comments powered by Disqus