Sutoyo Siswomiharjo

Sutoyo Muda
Sutoyo Siswomiharjo dilahirkan pada tanggal 22 Agustus 1922 di Bagelen, Jawa Tengah. Pendidikan umum tertingginya adalah AMS (Algemeene Middelbare School –SMA sekarang). Selesai tahun 1942.

sutoyo siswomiharjo

May. Jend. TNI Anum. Sutoyo Siswomiharjo (1922-1965) Foto: Koleksi Badan Pembina Pahlawan Pusat

Pada masa penjajahan Jepang, Sutoyo bekerja sebagai pegawai di kantor Kabupaten Purworejo. Jabatan awalnya hanya sebagai pembantu bagian sekretariat. Namun lambat laun ia berhasil menjadi Panitera Bupati.

Ketika datang kesempatan untuk menambah pendidikan, Sutoyo tidak menyia-nyiakannya. Ia mengikuti pendidikan pada Balai Pendidikan Pegawai Negeri (Kenkoku Gakuin) di Jakarta. Pendidikan ini membuatnya bisa diangkat menjadi pegawai menengah.

Kegiatan Kemiliteran
Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Sutoyo ikut dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR). Ketika tanggal 5 Oktober 1945 TKR menggantikan BKR, Sutoyo memilih jadi Polisi Tentara di TKR. Pangkatnya saat itu Letnan Dua.

Bulan Januari 1946, pangkatnya dinaikkan lagi jadi Letnan Satu dan ia ditunjuk sebagai ajudan Komandan Divisi V, Kolonel Gatot Subroto. Dari Gatot Subroto lah, Sutoyo belajar bagaimana menjadi seorang komandan yang baik.

Usai mendampingi Gatot Subroto, Sutoyo memegang berbagai jabatan penting. Beberapanya adalah:
1. Kepala Bagian Organisasi Polisi Tentara Resimen 2 Purworejo. Pangkatnya menjadi Kapten.
2. Kepala Staf CPM (Corps Polisi Militer) dan beberapa jabatan penting lainnya dalam tubuh CPM.

Sutoyo Masuk Angkatan Darat
Karirnya di Angkatan Darat bermulai dari Staf Umum Angkatan Darat. Kemudian ia pernah pula ditunjuk sebagai Atase Militer RI di London, Inggris. Pangkatnya saat itu sudah Letnan Kolonel.

Usai mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung, Sutoyo diangkat sebagai Pejabat Sementara (PS) Inspektur Kehakiman Angkatan Darat (Irkeh AD). Pangkatnya pun dinaikkan menjadi Kolonel.

Tidak lama, jabatannya pun dijadikan permanen. Ia resmi diangkat sebagai Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat (Irkeh/Ojen AD). Sutoyo pun merangkap jabatan Direktur Akademi Hukum Militer/Perguruan Tinggi Hukum Militer (AHM/PTHM). Pangkatnya adalah Brigadir Jenderal.

Meluasnya Pengaruh PKI
Pada masa kepemimpinannya itu, pengaruh PKI sudah meluas di pemerintahan. Sutoyo pun menjadi salah satu sasaran penculikan dan pembunuhan yang dilakukan PKI.

Kurang lebih pukul 04.00 tanggal 1 Oktober 1965, pasukan berseragam Cakrabirawa mendatangi rumah Sutoyo. Pasukan yang menggunakan seragam Cakrabirawa hanyalah pasukan pengawal Presiden. Mereka sebetulnya adalah anggota PKI yang menyamar.

Layaknya para perwira tinggi yang lain, Sutoyo pun dibawa ke basis PKI di Lubang Buaya. Di tempat itu, Sutoyo disiksa dan dibunuh. Mayatnya dan para perwira lain dibuang ke sebuah sumur tua.

Pada tanggal 5 Oktober 1965, bertepatan dengan HUT ABRI ke-20, Sutoyo dan perwira lainnya dimakamkan. Lokasinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Jasa-jasa Sutoyo dihargai negara. Ia diberi gelar Pahlawan Revolusi. Pangkatnya pun dinaikkan menjadi Mayor Jenderal Anumerta.
(Kidnesia: Sumber: Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Jilid II)

Comment n Share on your facebook