Ari Si Penari
Ari si Penari

Pssttt..sstt.. aneh ya, masa laki-laki menari begitu lemah lembutnya? Hihih.. kita godain, yuk! Foto: Ricky Martin

Nunik memandang Ari yang sedang berlatih tari. Ia segera menyodok lengan Weni. Weni ganti menyodok lengan Sari yang berdiri di sampingnya.

“Lihat, jari-jari Ari lentik sekali. Mirip anak perempuan,” bisik Nunik. Kedua temannya cekikikan mendengarnya.

Bu Wulan yang sedang melatih Ari, menoleh ke arah mereka. Ia menempelkan telunjuk di bibir. Isyarat supaya mereka tidak berisik.

Ketiga anak perempuan itu spontan membekap mulut dengan tangan. Bu Wulan sedang mengajarkan beberapa gerakan tari Bali kepada Ari.

Ia murid laki-laki satu-satunya di sanggar tari itu. Kata Bu Wulan, orang tua Ari adalah staf duta besar Indonesia untuk negara tetangga.

Orang tua Ari berharap Ari menguasai beberapa tarian tradisional. Supaya dapat dipertunjukkan kepada tamu-tamu asing yang ingin mengetahui kesenian Indonesia.

Ari memang sangat berbakat. Baru beberapa minggu berlatih, gerakannya sudah lentur sekali. Namun, teman-teman perempuannya sering menggodanya.

Mereka sering mengganti nama Ari menjadi Ariani atau Ariati. Walau begitu, Ari tidak pernah marah.

“Ariani, kamu pulang naik apa? Bareng kita, yuk. Kalau jalan sendirian nanti kamu digoda cowok, lo!” canda Nunik sambil tertawa.

Ari yang digoda cuma tersenyum kalem. Dengan santai ia melipat peralatan menarinya. Latihan mereka hari itu sudah selesai.

Ari biasa pulang berjalan kaki. Rumahnya memang tak jauh dari sanggar Bu Wulan. Weni dan Nunik berboncengan naik sepeda. Sedangkan Sari naik sepeda sendirian.

“Ayo, Ri, aku bonceng," ajak Sari.
“Nggak usah. Aku jalan kaki saja,” tolak Ari halus.

Ari si Penari

Ilustrasi: treehugger

Ketiga anak perempuan itu siap-siap mengayuh sepeda. Namun perasaan Nunik mendadak kecut. Ia melihat segerombolan anak nakal.

Mereka mangkal di halte dekat sanggar tari Bu Wulan. Mereka adalah anak-anak SMP yang masuk sore. Kalau sedang tidak ada pelajaran mereka nongkrong di halte itu. Dan mengganggu anak-anak perempuan yang lewat.

Kemarin sepeda Nunik ditarik dari belakang oleh si gendut. Salah seorang dari gerombolan itu. Weni dan Sari pun agak takut lewat di depan anak-anak itu.

“Kita minta Ari menemani kita saja. Siapa tahu mereka tidak berani mengganggu,” usul Weni berbisik.

“Aaa, mana takut mereka sama Ari!’’ sanggah Sari. Benar juga kata Sari. Penampilan Ari memang tidak menakutkan.
“Kalian kok berhenti, kenapa?” Ari memandang ketiga temannya yang tiba-tiba menghentikan sepeda.

“Takut sama anak-anak di halte itu ya?” Ketiga anak perempuan itu terdiam. Mereka hanya saling pandang.

“Hmm, kalau takut, aku akan menemani kalian." Nunik agak tidak percaya mendengar perkataan Ari. Ia sangsi kalau Ari bisa melindungi mereka dari gangguan anak-anak nakal itu. Tapi mereka tidak punya pilihan lain.

Akhirnya mereka bersepeda dikawal Ari. Persis di depan halte itu tiba-tiba ban sepeda Sari kempes.

Rupanya anak-anak nakal itu meletakkan papan berpaku di jalan. Sari panik. Apalagi anak-anak nakal itu mulai menyorakinya,

“He, kenapa ban sepedanya? Kempes ya? Kasihaaan…” ledek si gendut yang pernah mengganggu Nunik.
“Kamu yang membuat ban sepedaku kempes ya?" bentak Sari

“Kalau iya, kenapa ?” tantang si gendut. Tiba-tiba Ari maju dan mencengkeram kerah baju anak itu.
“Heh, lawan aku kalau kamu memang benar-benar jagoan!”

Nunik, Weni, dan Sari takjub melihat pemandangan itu. Mereka tidak menyangka kalau Ari yang lemah lembut itu bisa garang juga.

Tiba-tiba seorang anak berikat kepala merah menahan Ari. Rupanya ia sudah mengenal Ari,

“Maaf, Ri! Jalil ini memang suka iseng. Lagipula Jalil tidak tahu kalau ketiga anak perempuan itu temanmu. Kalau tahu, mana mungkin ia berani mengganggu mereka," ujar anak itu sambil jabat tangan Ari.

Ari si Penari

Ilustrasi: sebastian taekwondo

Sari, Weni dan Nunik terkesima. Siapa sih sebenarnya Ari? Mengapa anak berandalan itu segan kepada Ari?

“Ya, sudah. Tapi katakan pada yang lain, jangan suka mengganggu orang lewat lagi,” ujar Ari kalem. Ia melepas cengkeramannya pada kerah baju si Jalil.

Si gendut bernama Jalil itu mengangguk pelan . Ari segera mengajak ketiga temannya pergi.
“Ri, terima kasih ya. Eh, kami tidak tahu kamu ditakuti mereka, Ri," ujar Nunik kagum.

“Salah mereka sendiri kenapa takut,” sahut Ari tertawa. “Oh iya! Kalian mau mampir ke rumahku? Sudah dekat, kok!”

Ketiga anak perempuan itu saling pandang sejenak. Kemudian ketiganya mengangguk malu-malu. Ternyata Ari seorang tuan rumah yang ramah.

Begitu duduk, mereka langsung ditawari minuman. Ari sendiri yang membuatkan minuman. Ketika Ari sibuk di dapur, Weni melihat-lihat beberapa piala di lemari kaca.

Weni mendekati koleksi piala yang tertata rapih itu. Ternyata milik Ari. “Hah! Ari juara taekwondo tingkat nasional?” Weni berdecak kagum.

Begitu pula Sari dan Ninuk. Kini terungkaplah sudah siapa sebenarnya Ari. Pantas ia ditakuti anak-anak berandalan tadi.

“Ayah dan Ibu akan bertugas ke luar negeri. Aku akan ikut. Itu sebabnya aku belajar tari. Supaya dapat memperkenalkan kesenian Indonesia pada bangsa lain,” ujar Ari sambil membawa nampan.

Ketiga anak perempuan itu merasa bersalah telah mengolok-olok Ari. “

Maafkan kami bertiga ya, Ri ?” ucap Nunik tulus. Ari tersenyum sambil menyuruh mereka minum es sirup buatannya.

LogoMajalah Bobo

Oleh:Anna Chrisna Gurnandy
Bobo 44/XXVI

comments powered by Disqus