Daun Dadap
Daun dadap

Foto: herba.berita1

Seperti biasa, setiap sore Olan dan Oli sibuk bekerja di halaman belakang rumah. Olan menyiram tanaman, sedangkan Oli yang menyapu dan mengumpulkan daun-daun yang berguguran.

“Huh, kadang-kadang aku kesal pada pohon dadap ini. Daunnya banyak berguguran, membuat pekerjaanku bertambah banyak saja!” gerutu Oli.

“Seharusnya engkau bangga pada pohon dadap itu, Li!” jawab Olan.

“Kautahu, sekarang hanya kita yang masih punya pohon dadap di sekitar daerah ini. Yang lain sudah ditebang semua. Pohon dadap yang di rumah si Ilin baru saja ditebang kemarin dulu!”

“Kalau begitu pohon dadap kita ini juga harus ditebang. Pekerjaan kita kan jadi ringan. Hanya mengurus pohon bunga-bunga dan buah-buahan saja!” kata Oli.

Olan tertawa.

“Kau pasti tidak tahu, Li! Daun dadap ini kan bisa dipakai untuk menyembuhkan sakit panas!”
“Ah, kau mengada-ada!” kata Oli.

“Lho, tidak percaya?” tanya Olan. “Anak-anak yang sakit panas biasanya diberi minum air daun dadap, supaya panasnya turun. Tapi bukan sembarang daun dadap. Harus jenis pohon dadap serep, seperti yang di rumah kita ini!”

“Ooo, aku baru tahu!” Tiba-tiba Olan dan Oli melihat seekor anak burung. Tampaknya anak burung itu belum pandai terbang.

“Tangkap, yo!” ajak Olan. Oli mengangguk. “Hop!” Dengan mudah anak burung itu tertangkap.
“Aih, lucunya! Ayo bawa masuk ke rumah, Lan!” kata Oli.

Namun waktu Olan hendak membawa masuk anak burung itu ke rumah, muncul induk burung. Induk burung tampaknya marah dan hendak mematuk Olan.

Olan ketakutan. Ia berteriak-teriak minta tolong. Ibu yang ketika itu tengah bekerja di dapur, keluar.

Daun dadap

Foto: wikipedia

“Duh, mengapa kautangkap anak burung itu? Tentu saja induknya marah!” kata Ibu.
“Aku hendak memeliharanya, Bu!” jawab Olan.

“Burung itu termasuk burung liar. Namanya burung gagak!” kata Ibu.
“Kalau ia burung liar, mengapa datang ke sini?” tanya Oli.

Ibu menunjuk ke pohon dadap. “Lihatlah, pohon dadap itu! Sedang berbunga, kan? Nah, mereka datang hendak mengisap madu bunga dadap itu. Sekaligus juga menolong pohon dadap itu melakukan penyerbukan!”

“Wah, kalau begitu pohon yang Ibu tanam ini banyak manfaatnya!” kata Olan.
Ibu tersenyum.

“Setiap tanaman ada manfaatnya. Karena itu harus kalian pelihara baik-baik!” kata Ibu, sambil berjalan masuk ke rumah.
“Ya, memelihara tanaman sekaligus menyenangkan hati Ibu,” bisik Olan kepada Oli.

“Ha, ha, ha, ha…” Olan dan Oli tertawa sambil meneruskan pekerjaan mereka. (sh)

Diambil dari Majalah Bobo no.16/1982

Logo Bobo
    Fitraazinta Rahmaniyaluhri
    21-08-2012 04:33
  • kenapa kebanyakan cerita dari Bobo? Sad
    Shofiyya Anisah
    19-08-2012 05:19
  • Mmmm...... Di sekitar rumahku kayaknya tidak ada daun dadap , deh. Rolling Eyes
    aviefah haibatu zahra
    18-08-2012 02:58
  • hebat jugak!!!!
    Aisyah Fitri
    17-08-2012 10:38
  • Wah, ternyata daun dadap banyak gunanya. Very Happy

Comment n Share on your facebook