Lomba Cerbung IV: Lebaran

Hari lebaran tinggal beberapa hari lagi. Rasanya tak sabar menanti waktu sesingkat itu. Ingin segera kukenakan sepasang baju baru dan sepatu pemberian Ayah dan Ibu.

Barang-barang itu hampir setiap hari kujenguk di lemari pakaian. Ah, hari lebaran memang hari yang amat menyenangkan. Kenapa datangnya begitu lambat dan perlahan-lahan.

Saat ini, aku sedang duduk termenung di kamarku. Tinus muncul di depan pintu.

Wajahnya kelihatan sangat bersungguh-sungguh. Ia seperti menyimpan sesuatu yang ingin segera disampaikannya kepadaku.

“Kamu tahu kan hari lebaran tinggal dua hari lagi, Mul?” tanya Tinus seraya melemparkan majalah anak-anak yang dibawanya.

“Bukan cuma aku, Tin,” sahutku sedikit kesal karena kukira olok-olok Tinus kali ini tidak lucu. “Siapa pun tahu, hari raya idul fitri tinggal dua hari lagi. Kenapa harus kautanyakan itu kepadaku?”

layangan

Foto: emporia

“Kamu memang keterlaluan,” Tinus berkata tandas dan ia begitu kesal rupanya. Mau tidak mau aku terkejut. Kutatap Tinus dengan kedua belah mataku. Tinus berkedip sesaat dan kemudian ia tertawa nyinyir.

“Kamu tentu kenal dengan Saipul, bukan?” kali ini suara Tinus mengeluh. “Kenapa kamu masih juga bermusuhan dengannya? Bukankah itu tidak baik? Kita mau menghadapi hari raya, Mul. Apakah kamu tidak mau minta maaf?”

Aku mendadak tertawa. Tak kusangka, rupanya inilah maksud kedatangannya. Menyuruhku baikan kembali dengan Saipul. Huh, Saipul yang telah merobek layang-layangku seminggu yang lalu.

Aku masih sulit melupakan kejadian yang sangat menyakitkan itu. Layang-layang putus itu sudah berada di tanganku dan artinya harus sudah jadi milikku. Tetapi dia tiba-tiba menerkam dan merobek-robeknya? Kalau saja tidak segera dipisahkan oleh teman-teman lain, sudah kuhajar bulat-bulat dia.

“Itu maksudmu ke rumahku, Tin?” aku bertanya mengejeknya. Tinus mengangguk.
“Seharusnya kamu pergi ke rumah Saipul dan menyuruhnya minta maaf kepadaku, Tin,” ujarku selanjutnya.

“Dia yang bersalah kepadaku, bukan aku. Dia yang harus minta maaf lebih dulu. Kamu mengerti?”
“Kamu mau memaafkan kesalahannya?” Tinus menyambar kalimatku dengan cepat. Aku tersenyum dan merasa ditantang. Dengan cepat pula kujawab kalimatnya.

“Kenapa tidak? Suruh saja dia datang ke mari. Aku tentu akan memaafkannya.”
“Kamu sungguh-sungguh?” tanya Tinus.

“Sungguh-sungguh,” kataku tangkas.

“Aku tahu orang semacam Saipul itu pengecut. Dia tidak akan datang ke rumahku dan meminta maaf. Saipul itu, orangnya sombong, tapi pengecut. Dia memang tidak akan pernah datang meminta maaf kepadaku, karena dia sombong, mengaku tidak bersalah. Atau kalau tidak, dia memang betul-betul pengecut.”

“Kalau dia nanti mau datang kepadamu?” tanya Tinus. Apa yang terjadi selanjutnya? Nah, giliran kamu lanjutkan ceritanya, yah!

Yuk, Ikut  Lomba Cerbung (Cerita Bersambung) bareng Nesi!!!

Tuliskan saja cerita kelanjutannya di kolom komentar yang ada di bawah cerpen ini. Buatlah akhir dari cerita tersebut secukupnya.

Jangan lupa tuliskan Nama, Alamat, Nomor Telepon, dan email kamu, yah.  Kamu bebas berekspresi menentukan akhir dari cerita ini. Nesi tunggu Cerbung IV dari kamu sampai hari Minggu, 19 Agustus 2012.
Ini adalah lomba Cerbung yang terakhir. Nah, kesempatan, nih buat kamu yang belum pernah ikutan, jangan sampai ketinggalan.

Pengumaman pemenang Lomba Cerbung IV dan pemenang terbaik lomba cerbung akan diumumkan pada hari Selasa, 28 Agustus 2012.

O, iya, satu lagi, jangan lupa share   cerpen ini lewat facebook dan twitter kamu sebagai salah satu syarat mengkuti lomba Cerbung Ramadhan. (Kidnesia)

comments powered by Disqus