Semut-semut
semut

Ilustrasi:theantandtheexe

“Huh, alangkah menjengkelkan semut-semut ini,” pikir Gaguk, seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun, sambil mengamati gelas minumnya yang telah penuh dengan semut.

“Kecil-kecil memang, tapi kalau banyak jadi menyebalkan sekali.”

Dengan geram, Gaguk menuangkan gula di gelas tehnya pada semangkok air. Gula tenggelam.

Dan semut-semut itupun mati terapung-apung. Gaguk merasa puas. Diisinya lagi gelasnya dengan gula. Kemudian dituangkannya air teh dan dinikmatinya minuman itu.

Suatu sore, Gaguk sedang duduk di teras rumahnya sambil menghitung-hitung kelereng yang dipunyainya. Tengah asyiknya ia bekerja, tiba-tiba kakinya serasa panas disengat.

Gaguk terloncat sambil menjerit kesakitan. Dikibas-kibaskannya celananya. Dan seketika itu juga dilihatnya beberapa ekor semut merah berkeliaran di dekat kakinya.

“Lagi-lagi semut, lagi-lagi semut,” ia berteriak marah. “Binatang kecil tak tahu aturan…” dan ia pun melompat-lompat menginjak semut-semut itu.

Makin hari Gaguk makin jengkel pada semut-semut itu. Ada saja yang diperbuat oleh makhluk-makhluk kecil itu. Dan semuanya sangat merugikan.

Bayangkan, kue yang disimpan oleh Gaguk, tahu-tahu ketika hendak diambil sudah penuh oleh semut.

Padahal kue itu kegemarannya yang paling utama. Siapa tidak jengkel melihat perbuatan-perbuatan yang merugikan itu?

Suatu kali Gaguk sedang membaca sebuah majalah di atas pohon di depan rumahnya. Tiba-tiba telinganya terasa dimasuki binatang kecil.

Gaguk gelagapan tentu saja. Ia dengan gugup berusaha mengeluarkan binatang kecil itu. Untung kena. Dan apa yang dilihatnya? Yaa… semut lagi!

semut

Ilustrasi: how the stuff works

Suatu siang, Gaguk sedang duduk di kursi kebunnya bersama kawannya, Apin. Bersama-sama mereka berbicara dari A sampai Z.

Kemudian tiba-tiba pandangan mata Gaguk tertumbuk pada sesuatu yang menarik di dekat pot mawar.

Tampak olehnya butir-butiran nasi berjalan beriring-iring. Didekatinya iring-iringan itu, dan dilihatnya sesuatu yang lebih menarik.

Di atas tanah, tampak semut-semut hitam tengah bekerja bergotong royong mengumpulkan makanan. Satu butir nasi mereka bawa ramai-ramai. Dimasukkan ke sarangnya dan kembali lagi.

Seekor semut yang tampak susah payah menyeret remahan kawan-kawanannya. Dan bersama-sama mereka mengangkut remahan roti itu ke sarangnya. Sungguh suatu pekerjaan gotong royong yang mengagumkan. Gaguk dan Apin terpana melihatnya.

Mereka kagum atas kecerdikan makhluk-makhluk kecil itu. Begitu giat mereka bekerja demi kelangsungan hidupnya. Gaguk tidak mengira sebelumnya.

Sebelum itu, ia berpendapat bahwa semut adalah binatang pengacau yang kerjanya hanya merusak. Tapi kini, disaksikannya sendiri bahwa kelakuan semut-semut itu patut juga dicontoh oleh manusia.

“Benar-benar mengagumkan,” bisik Gaguk. “Semut-semut, engkau adalah makhluk kecil yang rajin yang pernah diciptakan oleh Tuhan.”

Patrisius Istiarto
Diambil dari Majalah Bobo 13/1981

Logo Bobo
comments powered by Disqus