Tak Ada Anak yang Bodoh
Tak Ada Anak yang Bodoh

ilustrasi: jokesprank.com

Di sebuah kerajaan ada seorang pangeran yang malas belajar. Karena sudah dua kali tidak naik ke kelas empat, ia dikeluarkan dari sekolah.

Sejak itu Raja memanggil guru khusus untuk mengajar Pangeran Ming. Namun, guru yang mengajar biasanya tak mampu bertahan lama.

Paling lama dua minggu, sesudah itu sang guru menyerah kalah.

"Maaf, Yang Mulia, hamba tidak sanggup. Pangeran sama sekali tak punya minat untuk belajar. Ia hanya suka bermain halma dan memancing ikan!" demikian alasan para guru.

Akhirnya, seorang kakek tua, Kakek Wang, melamar pekerjaan sebagai guru.

Ia mengajukan syarat, "Yang Mulia, izinkan hamba mengajar dengan cara hamba sendiri. Beri hamba waktu satu bulan dan Yang Mulia akan melihat Pangeran Ming berubah menjadi anak yang suka belajar!"

"Oh, silakan, Guru Wang. Aku serahkan Pangeran untuk Anda didik. Kalau Anda berhasil, aku tak segan-segan memberikan banyak hadiah!" kata Raja.

Demikianlah, Guru Wang yang bertubuh kurus tinggi itu diantar pengawal menemui Pangeran Ming. Pangeran Ming sedang duduk di lantai kamar bermain ludo sendirian.

"Selamat siang, Pangeran. Hamba adalah Guru Wang, guru barumu!" sapa Guru Wang.

Acuh tak acuh Pangeran memandang sekilas guru barunya, kemudian melanjutkan permainan halmanya lagi.

Guru Wang duduk di lantai dan berkata, "Tidak enak bermain halma sendirian. Lebih enak main berdua. Tentulah Pangeran sangat pandai bermain halma. Akan kita lihat siapakah yang menang!"

Wajah Pangeran Wang berseri-seri. "Ayo, aku juga ingin tahu sampai di mana kepandaian Pak Guru bermain halma!" kata Pangeran.

Mereka berdua bermain halma. Satu kali Guru Wang menang dan satu kali Pangeran Ming yang menang.

"Ternyata kita sama pandainya!" kata Guru Wang. "Kudengar Pangeran suka memancing. Maukah besok memancing bersamaku?"

"Baiklah!" jawab Pangeran Ming. "Tapi, bukankah Pak Guru bertugas mengajarku? Mengapa tidak seperti guru-guru lain yang mengajakku membuka buku pelajaran?"

Guru Wang tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya.
"Anak muda, di dunia ini banyak hal yang bisa dipelajari. Kita bisa memilih apa yang mau kita pelajari, bukan?

Tak Ada Anak yang Bodoh

Ilustrasi: cityofart.net

Dengan memancing, kita juga bisa belajar banyak. Belajar berdiam diri, belajar sabar. Belajar mencari tahu di mana ada banyak ikan.

Belajar memasang umpan yang cocok, belajar melempar dan menarik pancing, dan lain-lain!" Guru Wang menjelaskan.

"Tapi, orang-orang mengatakan aku bodoh karena aku tak berminat pada pelajaran sekolah!" kata Pangeran Ming.

"Sesungguhnya tidak ada anak yang bodoh di dunia ini, Pangeran!" kata Guru Wang.

"Masing-masing orang berhak menentukan apa yang mau dipelajarinya! Tukang pembuat keramik di desaku pintar membuat guci yang indah-indah, namun ia tak pernah menginjak bangkku sekolah.

Ia sangat ahli menggambar dan tahu tanah yan terbaik untuk membuat keramik, tahu cara membakar keramik dan tahu cara membentuk segumpal tanah menjadi sebuah guci yang indah!

Dan ia mendapat nafkah dari ketrampilannya itu."

Pangeran Ming mengangguk. Hatinya gembira. Baru kali ini ia menemukan guru yang disenanginya.

Esok paginya guru dan murid pergi memancing. Mereka pergi ke danau yang sunyi di sebuah desa dan duduk di tepi danau di bawah rumpun bambu.

Guru Wang sangat pintar memancing. Sebentar saja ia mendapat beberapa ekor ikan kecil, sementara Pangeran baru berhasil mendapat seekor ikan.

Kemudian Guru Wang mendapat seekor ikan besar. Namun, Guru Wang melemparkan kembali ikan besar itu ke danau.

Pangeran Ming ingin bertanya, tapi Guru Wang meletakkan telunjuknya di mulut, tanda Pangeran Ming tak boleh bicara.

Setelah tiga kali Guru Wang melepaskan ikan besar, Pangeran Ming tidak tahan.

Ia bertanya, "Pak Guru, mengapa ikan kecil dimasukkan ke dalam keranjang dan ikan-ikan besar dilepaskan?"

"Pangeran, bukankah aku yang menangkap ikan itu? Aku berhak menentukan apa yang kuinginkan, bukan?" kata Guru Wang. Ia menatap wajah muridnya.

"Ya, tapi orang akan menganggap Pak Guru aneh. Masak ikan besar dilepaskan dan ikan kecil disimpan!

Orang-orang lain mungkin akan membuang ikan kecil dan menyimpan ikan besar. Atau malah mereka akan memasukkan ke dalam keranjang ikan kecil dan ikan besar!" debat Pangeran Ming.

"Pangeran pintar dan apa yang dikatakan Pangeran memang benar. Aku ini orang tua yang bodoh yang hanya menuruti kemauan hati sendiri dan tidak memikirkan apa kata orang.

Tak Ada Anak yang Bodoh

Ilustrasi: english.cri.cn

Kalau begitu, perlu juga ya kita memperhatikan pendapat umum yang berlaku di masyarakat!" kata Guru Wang.

Pangeran Ming terdiam. Tiba-tiba dia ingat, bukankan selama ini ia mogok belajar.

Ia juga menuruti kemauan hati sendiri tanpa memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya?

Mungkin orang-orang menganggap ia Pangeran yang aneh dan bodoh. Tapi, ia sendiri yakin sekarang, bahwa ia bukan anak yang bodoh, karena kata Guru Wang tak ada anak yang bodoh.

"Pangeran, jangan melamun!" tegur Guru Wang.

Pangeran Ming tersenyum dan berkata, "Pak Guru, mulai sekarang jangan membuang ikan besar lagi. Dan mulai besok aku juga akan belajar sungguh-sungguh. Aku tak mau dibilang orang Pangeran yang aneh dan bodoh.

Semua anak harus rajin belajar untuk masa depannya. Aku pun seharusnya demikian! Aku suka memancing, tapi rasanya aku tak mau mencari nafkah dengan menjadi pemancing ikan."

Guru Wang tersenyum dan berkata, "Pangeran, pelajaran pertama yang penting telah selesai. Aku tak layak mengajarmu, karena aku cuma pensiunan guru desa.

Pangeran akan mendapat seorang guru yang pandai untuk mengajar Pangeran. Kita akan menjadi sahabat saja. Kapan saja Pangeran mau bermain halma atau memancing ikan, atau sekedar bercakap-cakap aku siap menemanimu!"

Maka guru dan murid pun kembali ke istana. Sejak itu Pangeran Ming bersemangat untuk mengejar ketinggalan pelajarannya di sekolah.

Guru Wang mendapat hadiah dan tetap menjadi sahabat Pangeran Ming. Dan Pangeran Ming mencamkan dalam hatinya bahwa tidak ada anak yang bodoh.

LogoMajalah Bobo

Bobo 30/XXVI
Oleh Widya Suwarna

    70n4thaN
    1-03-2011 05:57
  • wuuuiwww.. tul tu apa yg di ktakan sama Nadia!!! org kyak olliver itu diemn aja....
    nadiiaa
    1-03-2011 05:55
  • udah udahhh!!! jangan berantem!!! kata Nesi.. orang yang kaya Olivver itu diemin aja.... ntar dia juga capek sendiri!!
    damai dehh!!~~!~!~!~
    Sarah
    1-03-2011 05:30
  • Haha, kalian yang pake bahasa Inggris, sok banget tapi grammar nya salah. makanya jangan sok
    Lisy
    1-03-2011 05:01
  • Hey,, Stop! Do not let such taunts again there constantly!
    Jessenia
    1-03-2011 04:58
  • @Kheisya Olivver Shammy Nethersyaland: ‎​Ƙαмц kenapa sih?? Sok banget bahasa Inggris?? Sok ngatain pake bahasa Inggris. Itu namanya menyalahgunakan kemampuan. Semoga ‎​Ƙαмц mendapat azab besar ϑαяί yang Maha Kuasa! Allahu Akbar!

Comment n Share on your facebook