Selama musim hujan ini, Dita tidak bisa bermain di rumah Lia atau temannya yang lain. Ibu tidak memberi izin, karena takut Dita demam kalau kena hujan.
“Main saja dengan adikmu,” kata Ibu ketika Dita minta izin ingin ke rumah Lia.
“Tidak enak, Bu. Didi masih kecil, susah diajak main!” jawab Dita kesal.
“Nanti Dita sakit dan tidak bisa sekolah,” kata Ibu lagi.
Dita tidak jadi ke rumah Lia, dan bermain bersama Didi, adiknya yang baru berumur 4 tahun.
“Ayo, Di! Kita main nmasak-masakan,” ajak Dita. Tetapi Didi lebih suka main mobil-mobilan. Mulutnya terus menirukan bunyi mobil. Bruuum… bruuum…
“Huh dasar anak laki-laki!” kata Dita kesal. Akhirnya Dita main masak-masakan sendiri. Tetapi lama kelamaan bosan juga main tanpa kawan.
“Di, main sekolah-sekolahan, yok!” bujuk Dita pada adiknya. Didi menggelengkan kepalanya.
“Nggak mau,” jawab Didi yang belum jelas bicaranya.
Dita tambah kesal! Ia mondar-mandir di kamar makan. Di dekat pintu, ia melihat kotak jahitan Ibu. Dibawanya kotak itu ke ruang tengah. Di situ Didi masih sibuk dengan mainannya.
Tiba-tiba Dita melihat gunting! Pikirannya berjalan cepat. “Di, main tukang cukur-tukang cukuran, yok!” ujar Dita mengajak Didi lagi, “Aku yang jadi tukang cukur, kau yang dicukur rambutnya. Tapi pura-pura saja!”
Kali ini Didi setuju. Mungkin, ia sudah bosan dengan mobil-mobilannya.
“Tunggu, ya! Kakak ambil handuk kecil dan kursi dulu,” kata Dita. Didi hanya mengangguk, menuruti perintah kakaknya.
Tak lama kemudian Dita sudah kembali. “Nah, sekarang Didi duduk di sini!” perintah Dita sambil menunjuk ke kursi kecil berwarna merah.
Didi duduk di kursi. Lehernya ditutupi handuk kecil. Dita pun mulai berlagak seperti tukang cukur yang sedang memangkas rambut langganannya.
“Nah, selesai! Lihat di cermin, bagus, kan hasil cukuranku,” tanya Dita pada Didi.
Tiba-tiba Ibu memanggil Dita. “Dit, … Dita. Ke sini sebentar. Tolong Ibu dulu!” kata Ibu dari dapur.
Dita cepat berlari menemui Ibu. Sebelumnya ia berpesan pada Didi. “Didi diam di situ dulu. Jenggotnya belum dicukur!” ujar Dita yang sering menemani Ayah memangkas rambut.
Sementara Dita membantu Ibu di dapur, diam-diam Didi mengambil gunting yang masih menggeletak di lantai. Mula-mula benda itu hanya dipandanginya. Lama-lama rasa ingin tahunya bertambah besar. Diarahkannya gunting itu ke kepalanya.
Lalu… Kres… kres… Didi mulai memotong rambutnya secara sungguhan!Sudah banyak juga rambut Didi yang tergunting ketika Dita kembali ke ruang itu. Dita terkejut sekali.
“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Dita.
“Gunting rambut,” jawab Didi sambil tertawa.
“Jangan! Nanti kau tergunting!” kata Dita setengah berteriak. Tetapi sudah terlambat! Rambut di kepala Didi sudah tergunting. Kepalanya gundul di sana-sini. Lucu sekali kelihatannya.
Dita ingin menangis meihatnya. Ya! Ibu pasti marah padanya. Semua ini gara-gara dia. Dengan cepat direbutnya gunting itu dari tangan Didi.
Dengan memberanikan diri, Dita menceritakan hal itu pada Ibu. Ibu marah. “Sudah berapa kali Ibu peringatkan? Jangan main-main dengan benda tajam! Untung saja kepala Didi tidak luka!” kata Ibu dengan marah.
Dita minta maaf pada Ibu dan berjanji tidak akan main gunting lagi. Sore harinya ia dihukum menunggu rumah, sementara Ayah dan Ibu pergi mengantar Didi ke tukang cukur.
Ketika kembali dari tukang cukur, Dita tidak bisa menahan tawanya melihat kepala Didi yang gundul sama sekali.
“Hi… hi… hi… Didi lucu! Kepalanya botak!” kata Dita.
Didi cemberut. Cepat-cepat kepalanya ditutupi dengan kedua belah tangannya. “Carikan topi untuk Didi, Dit!” kata Ayah. “Kasihan adikmu kedinginan.”
Sambil memberikan topi, Dita berkata pada Didi. “Kakak minta maaf ya, Di. Besok kita main yang lain saja.” Didi tak jadi marah, ia hanya berkata, “Kakak sih. Didi jadi botak!” Dan keduanya pun tertawa geli. (EF)
Diambil dari Majalah Bobo no.1/Thn.1982