Gara-Gara Kunci Tertinggal
kurcaci

ah, di mana kuletakkan kunci itu? Foto:disney.go.com

“Oh, di mana kutaruh kunciku?” gumam Bani cemas. Kurcaci itu merogoh seluruh kantung pakaiannya. Ia tidak menemukan kunci pintu depan rumahnya.

Bani melihat ke atas. Langit tampak gelap. Hujan sepertinya akan turun. Dan benar. Titik-titik hujan mulai turun. Bani sedih sekali.

Ia lalu memeriksa  semua jendela rumahnya. Ooh, semua tertutup rapat. Bani pergi ke belakang rumah. Ketika mengintip lewat kaca jendela,  ia melihat kunci yang dicarinya itu!

Ternyata kunci itu tergeletak di meja dapur. Bani memandang sedih kuncinya itu. Sementara hujan kian deras turun.

Pak Keamanaan lewat di tempat itu. Ia heran melihat Bani hujan-hujanan di luar rumah.
“Hei, Bani, sedang apa kau di situ hujan-hujan begini? Bisa sakit kau nanti,” ujar Pak Keamanan.  Bani kaget.

“E... eh, Pak! A... anu... saya tadi ke warung. Tapi saya lupa bawa kunci. Akibatnya sekarang saya tidak bisa masuk rumah. Semua pintu terkunci. Jendela-jendela tertutup rapat. Oh, saya benar-benar pelupa! Kuncinya tertinggal di meja dapur. Lihat itu!”

“Oya?” Pak Keamanan menghampiri jendela. Ia memperhatikan kunci yang tergolek di meja dapur sambil mengangguk-angguk.

Lalu katanya,  “Kita harus memecahkan kaca jendela ini. Bagaimana? Setelah itu aku akan masuk lewat jendela, mengambil kunci itu. Barulah pintu bisa dibuka.”

“Silakan, Pak. Tapi saya baru saja mencat semua jendela. Sepertinya cat itu belum kering,” cetus Bani.
“Tapi ini satu-satunya cara,” timpal Pak Keamanan.

Ia lalu mengambil batu. Prang! Pak Keamanan memecahkan kaca jendela. Ia lalu masuk ke dalam rumah melalui jendela yang sudah tak berkaca.

Tiba-tiba Bani ingat kalau di bawah jendela itu ada sekaleng cat.
“Awas, Pak! Ada cat di bawah jendela itu!” serunya memperingatkan.

Terlambat. Pak keamanan menginjak kaleng cat itu. Kaleng cat terbalik. Isinya terpercik ke mana-mana. Sepatu dan pakaian dinas Pak Keamanan seketika berlepotan cat.

“Huh!” Pak Keamanan menggerutu kesal. Segera diambilnya kunci, lalu membuka pintu. Dengan pakaian basah kuyup dan wajah sedih, Bani masuk ke dalam rumahnya.

“Lihat pakaianku!” sungut Pak Keamanan. “Aku harus segera membawanya ke tukang cuci. Dan kau yang harus membayar biayanya, Bani!”

“I...., iya, Pak. Saya yang akan membayarnya. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Bani.

Sejak kejadian itu, Bani tak pernah lupa lagi untuk membawa kuncinya bila keluar rumah. Ia kapok.

Gara-gara lupa membawa kunci, ia jadi harus keluar biaya banyak. Ia harus membeli kaca baru untuk jendela dapurnya.

LogoMajalah Bobo

Ia harus membayar biaya cuci pakaian Pak Keamanan. Ia juga harus kedinginan karena kehujanan. Ia benar-benar tak mau jadi kurcaci pelupa lagi.

Oleh Endang Firdaus
Bobo No. XXXI

comments powered by Disqus