Kartu Ajaib
Kartu Ajaib

Ilustrasi: blogspot

Hmm, Slamet memang seorang pemulung.

Pagi ini, seperti biasa, ia memeriksa tempat sampah di depan rumah Fariz. Slamet terkenang perkenalan pertamanya dengan Fariz.

Waktu itu, ia seperti sekarang, sedang mengorek tempat sampah yang letaknya tepat di depan rumah Fariz.

Fariz yang sedang menungu mobil jemputan sekolah, tiba-tiba mendekatinya. Rupanya ia ingin tahu apa yang dilakukan Slamet. Itulah awal persahabatan mereka.

Sejak itu, Slamet selalu berusaha datang pagi. Bertepatan dengan saat sahabat kecilnya itu menunggu mobil jemputan.

Slamet merasa bahagia jika bercakap dengan Fariz. Selain itu, Fariz selalu memberinya makanan kecil.

“Dapat apa, Mas Slamet?” sapa Fariz yang baru keluar dari pagar rumahnya. Slamet tersadar dari lamunannya.

Di belakang Fariz tampak Aini, kakak Fariz. Seperti biasa, Fariz dan Aini menunggu mobil jemputan sekolah.

Slamet seusia Aini, yang duduk di kelas IV SD. Sedangkan Fariz baru duduk di kelas 1 SD. Itu sebabnya Fariz memanggil Slamet dengan 'Mas Slamet'.

“Oh iya! Mas Slamet mau ikut aku ke Dufan?” tanya Fariz lagi. Padahal pertanyaan pertamanya belum sempat dijawab Slamet.

“Dufan? Tempat apa itu, Riz?” Slamet berhenti mengais-ngais.

“Idih, masa’ Mas Slamet tidak tahu! Dufan itu adanya di Ancol. Di sana ada komedi putar, kapal-kapalan, perahu… Mainannya banyak, deh,” jelas Fariz dengan mata berbinar-binar.

Kartu Ajaib

Ilustrasi:seasite.niu.edu

Mata Slamet menerawang. Sudah setahun ia tinggal di Jakarta. Namun ia tak tahu apa itu Dufan. Yang ia ketahui hanya benda apa saja yang bisa dipulung dan dijual.

Kedua orang tua Slamet telah meninggal. Slamet tinggal dengan pamannya yang seorang pemulung. Dialah yang mengajari Slamet memulung.

“Mau ikut, tidak?” desak Fariz lagi. Slamet sadar dari lamunannya. Ia mengangguk malu.

“Tunggu ya!” Fariz berlari masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia keluar membawa beberapa lembar kartu.

“Besok pagi datang ke sini, ya! Pakai baju bagus, bawa kartu ajaib ini! Kata Ayah, kartu-kartu itu bisa membawa kita ke Dufan!" sambung Fariz sok tua.

Slamet terbengong-bengong. Sementara Fariz sudah berlalu karena mobil jemputannya sudah datang.

Ayah Fariz memang telah membuat kartu-kartu berukuran 5X10cm. Ia menyebutnya, Kartu Ajaib.

Kartu itu diberikan Ayah kepada Aini dan Fariz setiap kali mereka melakukan tugas yang disepakati.

Misalnya merapikan tempat tidur, menyapu, mengepel kamar sendiri, membersihkan kulkas, minum susu, makan tanpa sisa.

Kartu-kartu itu dikumpulkan Aini dan Fariz. Dalam jumlah tertentu, kartu itu bisa ditukar dengan benda-benda yang mereka butuhkan.

Misalnya alat tulis, buku cerita, bahkan mainan. Atau bisa juga ditukar dengan bepergian ke tempat rekreasi. Seperti Dufan, berenang, mengunjungi museum.

Kartu Ajaib

Ilustrasi:cal-s.org

Minggu pagi ini, Ayah dan Ibu sudah berjanji akan pergi ke Dufan. Karena jumlah kartu yang dimiliki Aini dan Fariz sudah cukup banyak. Kini mereka sudah siap berangkat.

Namun, “Ukh, sudah kubilang datang pagi-pagi!” gerutu Fariz mulai gelisah. Sebab Slamet belum muncul juga.

“Kita berangkat saja, ya, Riz! Mungkin Slamet tidak jadi ikut!” ujar Ayah sambil menghidupkan mesin mobil. Akan tetapi, tiba-tiba muncul anak laki-laki di depan pintu pagar.

“Mas Slamet!” seru Fariz lega. Kali ini Slamet tampil beda. Pakaiannya tidak lusuh seperti hendak memulung.

Kemeja lengan panjangnya cukup rapih. Di tangannya tergenggam beberapa kartu yang diberikan Fariz kemarin.

Ayah dan Ibu tersenyum melihatnya. Kemarin Fariz telah bercerita pada mereka tentang Slamet. Sebenarnya permainan Kartu Ajaib itu hanya untuk Aini dan Fariz.

Namun Ayah kagum pada Fariz. Walau masih kecil, ia tidak hanya memikirkan diri sendiri. Bahkan mau membagikan kartu-kartu ajaib hasil jerih payahnya.

“Ayo, cepat naik, Met! Supaya main di Dufannya bisa lama!” seru Ayah. Slamet pun bergegas masuk ke mobil.

LogoMajalah Bobo

Oleh Indra Syamsi Syamsuddin
Bobo 45/XXVI

comments powered by Disqus