Kuda Nil Yang Bertotol-Totol

Oleh Anita

      Di sebuah kolam yang berlumpur, tinggallah seekor kuda nil betina. Badannya besar. la tahan menyelam dalam air, biarpun bernapas dengan paru-paru. Sesekali kepalanya menyembul di permukaan air, menghirup udara segar untuk bernapas. Pada saat itulah nampak kulitnya yang licin dan agak kemerahan.

      Ia gemar menyedot lumpur, menyemburkannya ke mana-mana. Mengotori tanaman, rerumputan, dan batu-batuan di sekitarnya. Itulah kebiasaan kuda nil. Jorok tapi mengasyikkan baginya. Ia betah tinggal di situ. Bahkan menganggap kolam yang berlumpur itu sebagai suatu tempat tinggal yang paling indah.

       Pada suatu hari, kuda nil itu melahirkan seekor anak. Namanya Koming. Bayi kuda nil itu sedikit berbeda dengan induknya. Kulit tubuhnya bertotol-totol gelap.

       Biarpun kecewa, namun induk kuda nil itu amat menyayangi anaknya. Dipandanginya Koming, sambil bergumam, "Biarpun begini keadaanmu, aku tetap menyukaimu!"

       Sebaliknya, Koming amat menyesali keadaan dirinya. Ia ingin memiliki kulit yang licin dan bagus. Bukannya bertotol-totol seperti ini. la sedih sekali. Ia ingin sembuh. Itulah sebabnya ia bertekad pergi untuk mencari pertolongan.

       Dalam pengembaraanya, ia bertemu seorang manusia. Laki-laki itu sedang mengecat rumahnya. Ia berdiri di sebuah tangga dan sibuk mengulaskan cat pada tembok.

       "Bisakah kau mengecat kulitku dengan catmu itu? Aku ingin melenyapkan totol-totolku ini!" tanya Koming penuh harap.

       Laki-laki itu memandang ke bawah. Berpikir sejenak. Ia menggeleng dengan sedih, sambil berkata, "Tidak mungkin. Mana ada kuda nil putih kulitnya!"

       Koming pergi dengan kecewa. Ia masuk ke dalam hutan. Ketenangan dan kerimbunan hutan itu sedikit menghibur hatinya. Ia beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang.

kudanil1

Ilustrasi : Clipart

       Tiba-tiba terdengar suara-suara yang menyakitkan.

       "Lihat, kawan-kawan! Ada kuda nil aneh! Jelek benar kulitnya! Bertotol-totol! Mungkin ia sakit campak! Atau, bekas dipukuli manusia!"

       Koming sedih. Ia menengadah. Di atas sana nampak sekelompok monyet. Mereka ramai-ramai mengejeknya. Tak tahan mendengarnya, Koming buru-buru meninggalkan tempat itu. Sayup-sayup masih terdengar olok-olok mereka.

       Koming semakin jauh masuk ke hutan. Suara yang menyakitkan itu sudah tidak terdengar lagi. la merebahkan badannya di rerumputan yang lembut. Hatinya sedih sekali. Ia pun menangis.

       Seekor singa merasa iba melihatnya. Raja hutan ini bernama Gombak. Ia seekor singa yang baik hati. Dihampirinya Koming dan disapanya dengan ramah, "Kenapa kau menangis, kuda nil mungil?"

       "Aku kuda nil yang malang. Jelek dan bertotol-totol!" jawab Koming tersedu-sedu.

       "Kau sungguh malang!" tutur Gombak. Singa itu bergerak mendekati Koming. Ia ingin menghiburnya. Dengan lembut dijilatinya kulit Koming.

       "Jangan bunuh aku!" teriak Koming ketakutan. Ia berlari menjauh dan bersembunyi di balik ilalang.

       "Jangan bodoh! Aku ingin menyembuhkanmu!"

       "Benarkah?" tanya Koming ragu.

       Gombak menghampiri Koming. Dengan lembut ia menjelaskan, "Noda-noda itu bukan penyakit. Tapi hanya kotoran. Aku akan membersihkannya!"

       Gombak segera menjilati seluruh tubuh Koming. Satu per satu totol-totol Koming lenyap. Kini, kulitnya bersih dan mengkilat. Koming amat gembira. Ia mengajak Gombak menemui induknya. Karena bahagia, induk Koming menjamu tamunya. 

 Sumber : Majalah Bobo

Comment n Share on your facebook