Putri Magnolia dan Mawar Gunung
Istana mawar

Ilustrasi: trrs.com

Raja Dardanela terkenal arif bijaksana.

Ia mempunyai seorang putri bernama Magnolia. Walau berwajah cantik, sifatnya agak sombong.

Mungkin karena sejak kecil Putri Magnolia tidak mendapat kasih sayang ibundanya. Sri Ratu meninggal dunia ketika melahirkan Putri Magnolia.

Sang Putri sangat gemar mengoleksi bunga mawar. Berbagai jenis bunga mawar tumbuh di halaman istana.

Bahkan banyak yang didatangkan dari manca negara. Halaman istanapun nampak asri.

Suatu hari Sang Putri berkeliling negeri dengan beberapa pengawalnya. Ketika rombongan melewati sebuah dusun, Putri melihat serumpun bunga mawar nan indah.

Tumbuh di halaman sebuah rumah penduduk. Rasanya Putri belum pernah melihat jenis itu. Sang Putri pun memerintah pada pengawalnya untuk mengambil pohon mawar itu.

Kemudian diboyong ke istana. Tentu saja penduduk tidak berani melarangnya. Begitulah kebiasaan Sang Putri bila sedang berjalan-jalan.

Dia selalu merampas tanaman mawar milik penduduk. Suatu hari Sri Baginda menegur putrinya.

Istana mawar

Ilustrasi: calfinder.com

“Putriku, istana ini kan sudah penuh dengan aneka mawar yang bagus. Kenapa kau masih saja mengambil tanaman penduduk? Mereka juga ingin halamannya asri dan menarik kan?” tutur Sri Baginda dengan sabar.

“Tetapi Ayah, aku tidak ingin orang lain di negeri ini menanam pohon mawar. Aku tidak ingin melihat bunga mawar selain di istana ini,” Sang Putri cemberut.

Karena Sri Baginda sangat menyayangi putrinya, maka diturutinya keinginannya itu. Dan sejak saat itu penduduk dilarang menanam pohon mawar.

Sang Putri sangat puas. Ia merasa tidak punya saingan.

Suatu ketika Sri Baginda pergi berburu di hutan. Putri Magnolia pun ikut serta. Di hutan itu ada lereng gunung yang sangat subur.

Berbagai jenis tumbuhan tumbuh di situ. Setelah seharian berkeliling di hutan, rombongan Sri Bagindapun kelelahan.

Padahal mereka tidak mendapat hewan buruan satupun. Rombongan itu lalu beristirahat di sebuah tenda. Sambil menikmati perbekalan.

Saat itu Sang Putri berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Sambil mendengar kicauan burung yang teramat merdu.

Tanpa terasa sepasang kakinya tiba di sebuah pondok yang amat sederhana. Halaman pondok itu ditumbuhi perdu-perdu mawar yang amat indah. Sungguh lain dari yang pernah dilihat Sang Putri.

Sang Putri sangat gembira. Diciumnya bunga-bunga itu. Saat itu tiba-tiba muncul seorang gadis dari dalam pondok.

Pakaian gadis itu amat sederhana. Tetapi tidak bisa menyembunyikan kecantikannya. Putri Magnolia sampai tercengang menatapnya. Gadis itu pun sama terkejutnya. Segera ia menghaturkan sembah,

“Ampun, Tuan Putri. Hamba tidak tahu Tuan Putri ada di sini.”
“Siapa namamu?” tanya Sang Putri.

“Nama hamba Kecubung, Tuan Putri,” jawab gadis itu. “Apakah Paduka yang bernama Putri Magnolia?” tanya Kecubung memberanikan diri.

“Benar. Akulah Putri Magnolia, Putri Raja Dardanela. Apa kau belum tahu?” kata Sang Putri dengan congkaknya.

“Ampunkan hamba, Tuan Putri. Hamba tinggal di hutan. Jadi baru kali ini melihat wajah Tuanku Putri.”

“Baiklah. Dan apakah kau juga tidak tahu kalau semua orang di negeri ini dilarang menanam pohon mawar, selain di istana?” ujar Sang Putri ketus. Kali ini Kecubung benar-benar gemetar.

“Ampun beribu ampun, Tuan Putri. Hamba belum tahu larangan itu…” Kecubung terbata.

“Huh! Mawar-mawarmu ini akan diboyong ke istana. Dan kau dilarang menanamnya lagi,” bentak Sang Putri.

“Jika Tuan Putri menyukainya, silahkan mengambilnya. Hamba akan merasa senang,” jawab Kecubung.

“Bagus. Pengawalku segera ke sini untuk mengambilnya.” Sang Putri lalu meninggalkan pondok Kecubung. Tak lama kemudian serombongan pengawal datang ke pondok Kecubung.

Istana mawar

Ilustrasi: mooseycountrygarden.com

Sri Baginda pun turut serta bersama Putri Magnolia. Kecubung menjadi pucat ketakutan. Buru-buru ia menghaturkan sembah.

“Kaukah yang bernama Kecubung?” tanya Sri Baginda dengan ramahnya.
“Benar, Sri Baginda,” jawab Kecubung.

“Apakah kau mengizinkan Putriku mengambil pohon mawarmu?” suara Sri Baginda amat lembut. Sangat berbeda dengan putrinya.

“Demi Sang Putri, hamba rela Sri Baginda,” jawab Kecubung bersungguh-sungguh. Hati Sri Baginda merasa lega. Diberinya Kecubung beberapa keping emas.

“Ampun, Sri Baginda, hamba tidak meminta imbalan apa-apa,” kata Kecubung buru-buru. Sri Baginda tersenyum lembut.

“Aku tahu, Kecubung. Tapi terimalah ini sebagai rasa terima kasihku padamu,” demikianlah titah Sri Baginda. Kecubung tak bisa lagi menolaknya.

Putri Magnolia sangat senang. Mawar milik Kecubung itu sungguh lain dengan mawar-mawar di istana Putri Magnolia.

Kelopaknya besar-besar dan bersusun-susun indah. Putri Magnolia tak bosan-bosan memandanginya.
Namun, seminggu kemudian pohon itu layu.

Sang Putri terkejut. Padahal tukang kebun istana tak pernah lupa menyiraminya. Tak lama kemudian, kelopak-kelopak mawar itu mulai berguguran. Sang Putri sangat sedih.

Sang Putri dan beberapa pengawalnya kemudian datang lagi ke pondok Kecubung di hutan. Namun di sana tak dijumpainya sekuntum mawar.

“Bukankah Tuan Putri melarang semua orang di negeri ini menanam pohon mawar?” jawab Kecubung ketika Sang Putri menanyakannya.

“Jadi, setiap ada batang mawar yang tumbuh, hamba selalu memotongnya,” jelas Kecubung lagi. Mendengar keterangan Kecubung ini Sang Putri merasa bersalah.

Alangkah sayangnya bila mawar seindah itu telah lenyap dari bumi ini. Diam-diam Sang Putri menyadari kekeliruannya.

Putri Magnolia menceritakan hal ini pada ayahandanya. Raja Dardanela tersenyum dan memeluk putrinya, “Syukurlah kalau kau sudah sadar.”

Sejak saat itu semua penduduk negeri boleh menanam bunga kembali. Setahun kemudian, Putri Magnolia berkunjung ke pondok Kecubung.

Sang Putri benar-benar tercenang. Pondok Kecubung telah berubah sama sekali. Rupanya uang pemberian Sri Baginda dulu digunakan untuk memperbaiki pondoknya.

Halaman rumahnya dipenuhi perdu-perdu mawar aneka warna. Sang Putri menjadi betah berlama-lama di situ. Ini membuat Kecubung senang.

Ketika Sang Putri pamit pulang, Kecubung menawarkan pohon-pohon mawarnya. Tetapi dengan lembut Sang Putri menolaknya.

“Biarlah mawar-mawar ini tumbuh di sini. Kurasa dia lebih cocok tumbuh di alam pegunungan dari pada di halaman istana.”

Kecubung terharu mendengarnya. Dipotongnya beberapa tangkai mawar berkelopak warna-warni.

“Biarlah kuntum-kuntum mawar ini menghiasi vas bunga di kamar Tuan Putri,” Kecubung menyerahkan seikat mawar ke tangan Sang Putri.

“Terima kasih, Kecubung,” jawab Putri Magnolia. Ah, siapa sangka mawar-mawar gunung ini mampu mengubah sifat buruk Putri Magnolia.

LogoMajalah Bobo

Oleh Rini M.
 Bobo No. 35/XXVI

comments powered by Disqus