Anak-anak bukit Ciliwung tinggal di 4 desa kecil. Desa Cibalao, Cikoneng, Rawa Gede, dan desa Lahan Cadangan atau sering disebut LC. Desa mereka sangat terpencil dan dikelilingi oleh perkebunan teh. Satu-satunya jalan masuk berupa pintu gerbang tak jauh dari Masjid Ata’awun di Puncak, Cisarua.
Jauh dari Polusi
Meskipun tinggal di daerah terpencil, mereka sangat beruntung. Setiap detik mereka masih bisa menikmati udara yang dingin alami dan menghirup udara pegunungan yang masih sangat segar, bersih, dan bebas polusi.
Mereka pun bisa menikmati dengan gratis, air asli pegunungan yang mengalir langsung dari sumber mata air Ciliwung. Anak-anak Ciliwung bergembira bisa bermain di alam terbuka bersama teman-temannya. Ya, mereka sungguh beruntung bisa selalu dekat dengan alam.
Pergi ke Sekolah
Anak-anak di perbukitan Ciliwung juga sekolah, loh! Sekolah mereka terletak di atas bukit di desa Cikoneng. Oleh sebab itu, sekolah mereka diberi nama SD Cikoneng. SD Cikoneng adalah satu-satunya gedung sekolah di daerah itu.
Untuk pergi dan pulang sekolah, mereka harus jalan kaki. Ada yang beberapa menit sudah sampai di sekolah. Namun, bagi anak-anak dari desa Cibalau, Rawa Gede, dan LC, mereka harus jalan kaki 3 kilometer sampai 6 kilometer. Jalannya jalan batu dengan medan naik turun bukit.
Naik Truk
Beruntunglah anak-anak di desa Cibalau. Setiap berangkat sekolah, mereka bisa menumpang truk perkebunan yang akan mengantar bapak dan ibu para pekerja kebun teh ke kebun. Mereka harus di pos pinggir jalan pada jam 06.30.
Kalau sampai terlambat, pasti akan ketinggalan truk dan mereka harus jalan kaki. Nah, agar tidak ketinggalan, mereka mulai berangkat dari rumah pada jam 6.
Pada saat pulang sekolah, giliran anak-anak desa Rawa gede dan LC yang beruntung. Mereka bisa pulang dengan menumpang truk yang akan mengangkut pucuk teh untuk dibawa ke pabrik pengolahan.