Bagi warga Purwokerto, Jawa Tengah, Ramadan adalah saat yang tepat untuk melahap kraca , sayur keong.
Makanan yang hanya muncul setahun sekali selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri, menjadi pilihan favorit saat berbuka.
Sebagian besar orang Jawa biasa menyebut kraca dengan nama tutut keong. Nah, keong yang digunakan untuk memasak adalah keong yang biasanya hidup di sawah.
Huaaa, jangan keburu khawatir tidak bersih, karena keong jenis ini hidup di perairan yang jernih dan bersih.
Kraca memiliki kandaungan gizi yang sangat tinggi terutama protein. Enggak heran, makanan tersebut jadi rebutan. Sebelum dimasak, keong dibersihkan sampai 3 kali untuk menghilangkan lendir dan kotoran seperti lumpur dan lumut. Kemudian keong yang sudah bersih direndam selama sehari semalam.
Setelah direndam, keong diolesi bumbu-bumbu dapur, seperti, bawang merah, putih, dan daun salam. Selanjutnya, keong dimasak hingga satu jam bersama bumbu dapur yang sudah dihaluskan.
Kraca ini punya rasa campur aduk, ada manis, asin, dan pedas. Nah, karena rasanya memang agak pedas, makan kraca itu secukupnya, yah. Soalnya, kalo perut tidak kuat bisa diare.
Kraca tidak hanya unik karena asalnya dari keong, cara memakannya pun unik! Pakai lidi! Lidi tersebut dimasukan ke mulut rumah keong untuk mengait dagingnya. Jika sulit, bisa saja dengan cara menyedot langsung lewat pantat keong yang sudah dilubangi. Hmmmm… rasanya nikmat. (Kidnesia/berbagaisumber)