Angin kencang bertiup. Langit menggelap dan ombak semakin tinggi. Aku sedang menemani ayah menangkap ikan di laut.
Ayah mengajakku berlabuh dan berteduh di Pulau Peucang. Aku bersorak girang mendengarnya. Aku suka Pulau Peucang .
Bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon
Pulau Peucang itu tak jauh dari tempat tinggalku di desa nelayan Sumur. Desaku berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon.
Itu, lo, hutan lindung tempat tinggal badak bercula satu dan banteng jawa.
Selain hutan seluas 500 ha di semenanjung Pulau Jawa, pulau-pulau kecil di sekitar situ juga termasuk wilayah taman nasional.
Ada Pulau Peucang, Pulau Handeleum, Pulau Panaitan, serta 20 pulau kecil lainnya.
Nah, kalau mau ke Pulau Peucang, kau bisa menyeberang naik kapal dari desaku selama 2-3 jam. Pulau 450 ha ini hanya dihuni oleh 6 sampai 10 orang jagawana yang menjaga pulau.
Namun, di pulau ini tidak ada badak dan banteng. Adanya rusa, babi hutan, biawak, kancil, dan monyet.
Pulau Cantik untuk Wisatawan
Sejak zaman Belanda, Pulau Peucang sudah menjadi tempat persinggahan para turis. Yup, soalnya pulau inilah yang hutannya tidak terlalu lebat.
Ada dermaganya, ada sumur air tawar, hewan penghuninya tidak berbahaya, serta, pantainya wuiiiihh… cantik sekali!
Terumbu karangnya juga indah. Aku lihat banyak wisatawan yang snorkeling di sini. Karena itu di sini ada rumah penginapan untuk wisatawan.
Namun,wisatawan yang datang tidak boleh banyak-banyak.
Jumlah maksimal pengunjung di pulau ini 150 orang. Soalnya kalau kelebihan, nanti hewan-hewannya terganggu.
Menembus Hutan Menuju Karang Copong
Hujan mulai berhenti. Ayahku masih asyik mengobrol dengan jagawana.
Kesempatan buatku mengunjungi Karang Copong. Karang Copong itu pantai berkarang-karang dan pada satu bagian karangnya berlubang atau copong.
Saat Matahari terbenam, pemandangan di sana indah sekali. Untuk pergi ke sana aku harus menembus hutan sejauh 2,5 km.
Aku tidak takut tersesat, soalnya ada jalan setapaknya. Namun, kalau kamu turis, untuk berjaga-jaga, kau harus ditemani jagawana.
Hari semakin sore. Aku berlari menyusuri hutan. Akhirnya debur ombak mulai terdengar dari ujung hutan. Matahari kemerahan mulai turun. Kupanjat karang dan kunikmati pemandangan indah itu.
Ayah muncul dari hutan. Beliau datang untuk mengajakku pulang. Kami para nelayan sangat beruntung. Kalau badai atau butuh air tawar di tengah laut, selalu ada persinggahan cantik bernama Pulau Peucang.
(Dikha/Bobo/Foto: Dikha)