Satu rumah untuk semua, itulah rumah betang. Beberapa keluarga tinggal di sana dengan jumlah penghuni sekitar 100-150 orang. Keluarga besar ini dipimpin oleh seorang tetua yang disebut Pembakas Lewu .
Rumah betang berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat Dayak. Di sini, orang Dayak melakukan kegiatan, seperti menenun, memahat, mengukir, menari dan melaksanakan upacara adat.
Warga rumah betang sangat memelihara rasa kekeluargaan. Jika ada salah satu penghuni meninggal, semua warga betang ikut berkabung.
Rasa berkabung itu ditunjukkan selama satu minggu. Mereka tidak menyalakan musik, tidak berisik, tidak menggunakan perhiasan, tidak minum saguer (minuman tradisional dari beras ketan), dan tidak menghidupkan alat elektronik.
Sebaliknya, jika salah seorang penghuni rumah betang memperoleh ikan dan hasil buruan lainnya, perolehan itu dibagi-bagi dan dimakan bersama-sama. (Sigit Wahyu/Potneg/Annisa/Kidnesia)