Senin, 07 Februari 2011
Imlek 2011: Berdoa untuk Leluhur
  • Imlek 2011: Berdoa untuk Leluhur
Rumah Keluarga Lie Tiong Siue

Rumah Keluarga Leluhur Gunawan dan Yohannes di Pasar Lama, Tangerang.

Eits, siapa bilang perayaan Tahun Baru Imlek sudah lewat? Belum, teman-teman! 

Meski tanggal satunya sudah lewat, tapi perayaan Tahun Baru Imlek 2562  belum berakhir, lho!

Orang-orang Tionghoa akan mengadakan sebuah acara khusus untuk penutupan perayaan Tahun Baru Imlek. Namanya perayaan khusus itu adalah Cap Gomeh .

Makanya, teman-teman yang masih ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek, mendoakan para leluhur keluarga, atau yang masih ingin bersilaturahmi kepada saudara, kerabat, sahabat, atau handai tolan, masih bisa dan diperbolehkan.

Ngomongin perayaan Imlek, Nesi sempat jalan-jalan dan melihat secara langsung bagaimana Keluarga Lie Tiong Siue  merayakan Imlek di wilayah Pasar Lama, Tangerang.

Sesaji Persembahyangan Imlek

Macam-macam, lho sesaji yang disiapkan untuk para arwah leluhur . Dan semua sesaji ini harus habis dimakan oleh sanak keluarganya.

Tak hanya melihat keramaian di kelenteng atau viharanya, tapi Nesi juga melihat bagaimana orang-orang Tionghoa menyiapkan sesaji persembahyangan di setiap rumah yang masih keturunan Tionghoa.

Wuaahhh.. ternyata banyak sekali makanan (kue-kue, lauk pauk, buah-buahan) dan minuman (teh, kopi, dan tuak) yang disediakan untuk arwah para leluhur yang akan didoakan.

Di rumah leluhur Ibu Dedeh, di wilayah Pasar Lama, Tangerang, Nesi ketemu Gunawan  (kelas 4) dan kakaknya, Yohannes  yang merupakan keturunan ke-6 dari leluhurnya Lie Tiong Siue.

Mereka berdua sedang bersiap-siap untuk melaksanakan persembahyangan. Sebelum melaksanakan sembahyang, Gunawan dan Yohannes harus menyalakan hio  atau dupa.

Berdoa untuk para leluhur

Gunawan dan Yohannes berdoa untuk para leluhur.

Setelah hio disulut dan mengeluarkan asap, mulailah mereka berdoa sambil mengangkat hio itu ke dahi.

Sambil memejamkan mata, mereka mulai berdoa untuk para leluhurnya.

Nah, menurut tradisi, setelah semua keluarga bersembahyang, ritual berikutnya adalah membakar segala benda-benda yang seluruhnya terbuat dari kertas. 

 Ada uang-uangan kertas, kemeja dan baju kertas, dan lainnya.

Ibu Dedeh bilang, semua benda yang terbuat dari kertas itu akan segera dibakar dalam satu tempat setelah semua keluarga melakukan sembahyang.

Maksudnya adalah untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur, dan terus menjaga dan meneruskan kebaikan yang sudah diturunkan sebagai wujud nilai bakti kepada leluhur.

Sesaji Persembahyangan Imlek

Uang dan baju kertas yang siap dibakar

Selanjutnya, seluruh makanan sesaji yang ada di atas meja itu harus habis dimakan oleh seluruh anggota keluarga dan sanak familinya. Sssst, tak boleh ada yang tersisa, lho!

Setelah mereka bersembahyang di rumah, keluarga Gunawan bersiap-siap pergi ke Kelenteng Boen Tek Bio  untuk berdoa kepada Tuhan YME dan Dewi Kuan In agar di tahun yang baru ini lebih sukses dan terkabul harapannya.

Ya, semoga terkabul semua doa dan harapannya, ya. Selamat Tahun Baru Imlek buat semua yang merayakannya. (Ervina/Kidnesia/Foto-foto:Rio Manadona)

comments powered by Disqus