Rabu, 04 Mei 2011
Seni Ikat Kepala
  • Seni Ikat Kepala
ikat kepala

Ikat blangkon Jogja ini sering kita jumpai.

Pada zaman dahulu, hampir setiap lelaki di Jawa memakai ikat kepala.

Bahkan sebenarnya tidak hanya di Jawa, hampir di seluruh nusantara para lelaku bisa mengenakannya.

Maka, jangan heran, kalau ad abanyak ragam ikat kepala di Nusantara.

Ikat kepala juga dianggap sebagai simbol kewibawaan. Nama-namanya pun unik.

Di Sunda, kita mengenal iket barangbang semplak , talingkup,  totopong  atau benda cepot, dan lainnya.

Di Baduy, kita mengenal lomar . Di Yogyadan Solo, kita mengenal blangkon .

ikat kepala

Kalau yang ini ikat kepala yang sering digunakan masayarakat Baduy.

Di Jawa Timur dan Bali, ada udheng .

Ikat kepala blangkon tertutup sehingga membuat rambut tak tersengat matahari.

Warna dan motif kain yang digunakan untuk blangkon adalah simbol yang menerangkan kedudukan pemakainya.

Ikat kepala Barangbang semplak. Iket ini biasa dipakai jawara silat.

 Karena itu, ikatannya praktis dan bikin yang memakainya terlihat gagah.

Udheng Bali, nah, ikat ini masih banyak dikenakan lelaki Bali.

Sebab, udheng adalah bagian dari kostum yang digunakan untuk sembahyang umat Hindhu Bali. (Joko/Potneg/Annisa/Kidnesia/Foto: Ricky Martin)

Logo Potneg
comments powered by Disqus