Kamis, 15 Maret 2012
Terunyan, Desa Cantik yang Misterius
  • Terunyan, Desa Cantik yang Misterius
    Terunyan, Desa Cantik yang Misterius

Sore itu kabut turun. Aku dan ayahku baru mau menyeberang ke Desa Terunyan, Bali.

Desa itu punya cara pemakaman yang misterius. Katanya ada banyak tengkorak manusia berserakan di sana! Wuaaahh! Ayo, temani aku ke sana, teman!

Menyeberang Danau ke Terunyan

Untuk pergi Desa Terunyan,  kami harus naik perahu dari Panelokan untuk menyeberangi Danau Batur.  Dengan perahu motor, kami hanya perlu 20 sampai 30 menit untuk sampai ke sana.

Namun, kalau pakai perahu sampan kayu seperti yang dipakai penduduk Terunyan, wah, bisa sampai satu jam! Apalagi kalau cuaca buruk seperti sekarang.

Desa Mungil yang Cantik

hasil panen bawang

Panen bawang di Desa Terunyan. Foto: Ricky Martin

Brmmmm… cssshh… Perahu motorku berhenti di dermaga kecil Desa Terunyan. Anak-anak penduduk desa tertawa-tawa sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

Seorang penduduk desa datang menyambut. Ia mengajak aku dan ayahku melihat-lihat desa. 

Desa itu tidak besar. Luas seluruhnya hanya 19,6 hektar. Ada sekolahnya, ada kantor pengurus desa, dan pastinya ada banyak rumah dan ladang. Hasil panen desa itu adalah bawang, tomat, kubis, dan cabai.

Pura Tua 

Kami terus berjalan melintasi desa sampai ke sebuah pura tua. Pura Pancering Jagat  namanya. Setiap 15 hari sekali penduduk Desa Terunyan datang mengadakan upacara bulan purnama dan bulan mati. Ramai sekali! Para penduduk datang sembahyang dengan pakaian adat.

Pemakaman Taru Menyan

Hiii... tengkorak! Tetapi anak setempat tidak takut, tuh. Foto: Ricky Martin

Pemakaman Misterius

Puas menjelajah desa, tibalah acara yang ditunggu-tunggu. Yaitu mengunjungi pemakaman misterius Desa Terunyan.

Untuk ke sana, kami harus naik perahu lagi, karena tempatnya terpisah.

Suasana di pemakaman sunyi sekali. Benar! Ada banyak tengkorak di sana! Tengkorak-tengkorak itu berjajar di atas batu.

Kamu pasti tahu kalau orang Bali tidak mengubur jenazah keluarga mereka yang sudah meninggal, melainkan membakarnya atau upacara ngaben.  

Nah, kalau di Terunyan beda. Kalau ada yang meninggal, jenazahnya digeletakkan begitu saja di lubang-lubang dangkal di situ. 

Kalau nanti ada jenazah baru, tetapi lubang itu sudah penuh, maka sisa-sisa tengkorak dan tulang di satu lubang akan diambil dan diletakkan di atas batu. Lubangnya diisi jenazah baru.

pohon taru menyan

Inilah pohon taru menyan itu. Besar yaa...

Misteriusnya, di sana sama sekali tidak bau, lo. Padahal, kan, harusnya jenazah itu membusuk dan berbau.

Konon, ini berkat pohon besar di area penguburan itu. Pohon itu namanya pohon taru menyan.

Taru artinya kayu, menyan artinya wangi. Jadi, taru menyan itu pohon yang wangi. Wanginya bisa menutupi bau jenazah-jenazah itu.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku juga tidak mencium wangi apa-apa. Mungkin karena impas dengan bau dari jenazah itu, kali ya? 

Biarpun misterius, ada banyak tengkorak, dan udara dingin berkabut, aku sama sekali tidak takut. Mungkin karena penduduk desa yang dengan ramah mengajak kami mengobrol.

Sore itu juga aku dan ayahku menyeberangi Danau Batur, kembali ke Panelokan. Sampai ketemu lagi, Desa Terunyan! (dikha *)

    Arsalna Cheseecute
    18-05-2012 10:59
  • Ayoo Exclamation Exclamation Exclamation
    tamanin kesana dong Sad
    takut,,,,hiiii seram Shocked Embarassed Embarassed Embarassed Embarassed
    bryan alva izzy
    29-03-2012 02:49
  • jadi pengen kesanaa.......... Very Happy Very Happy Smile Smile Embarassed Suprised Cool Laughing Laughing Wink Razz
    nabilla feirizky
    23-03-2012 05:45
  • wow,kapan2 saya mau ke sana!

Comment n Share on your facebook