Kamis, 17 Desember 2009
Cut Nyak Dien
  • Cut Nyak Dien
Cut nyak dien

Pahlawan wanita berhati baja. Foto: blogfriendster

Nangroe Aceh Darussalam memang dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih dan tidak kenal kompromi melawan penjajah.

Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja. Meski usianya sudah lanjut, masih berusaha melawan Belanda.

Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1850, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Jiwa pejuang memang sudah ada dalam diri Cut Nyak Dien, dari ayahnya yang juga seorang pejuang. Jadi memang tidak heran kalau ia berjiwa patriot. Ketika Lampadang, tanah kelahirannya, diduduki Belanda pada bulan Desember 1875, Cut Nyak Dien terpaksa mengungsi dan berpisah dengan ayah serta suaminya yang masih melanjutkan perjuangan.

Perpisahan dengan sang suami, Teuku Ibrahim Lamnga, yang dianggap sementara itu ternyata menjadi perpisahan untuk selamanya. Sang suami gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Gle Tarum bulan Juni 1878. Cut Nyak Dien pun semakin keras melawan Belanda.

Dua tahun setelah kematian suami pertamanya atau tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar, keponakan ayahnya. Teuku Umar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang terkenal banyak mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda. Teuku Umar telah dinobatkan oleh negara sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sayang, Teuku Umar yang terkenal punya banyak taktik dalam melawan Belanda, harus gugur di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Cut Nyak Dien kembali sendiri lagi. Tapi walaupun tanpa dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut.

Dia terus melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh. Dia seorang pejuang yang pantang menyerah atau tunduk pada penjajah. Tidak mengenal kata kompromi dan istilah berdamai sekalipun.

Perlawanannya yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh. Pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya tapi sekalipun tidak pernah berhasil.

Tapi seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dien pun semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit pun mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya pun semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan.

Melihat keadaan yang semakin mengkhawatirkan, anak buah Cut Nyak Dien merasa iba kepadanya walaupun sebenarnya semangatnya masih tetap menggelora. Karena itu, seorang panglima perang dan kepercayaannya yang bernama Pang Laot, berinisiatif menghubungi pihak Belanda tanpa sepengetahuannya.

Maksudnya, agar Cut Nyak Dien bisa menjalani hari tua dengan tenang walaupun dalam pengawasan Belanda. Dan pasukan Belanda pun menangkapnya.

Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap pun dia masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Dia lalu ditawan dan dibawa ke Banda Aceh.

Tapi walaupun di dalam tawanan, dia masih terus melakukan kontak atau hubungan dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga dia pun akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pembuangan itulah akhirnya dia meninggal dunia pada tanggal 6 Nopember 1908, dan dimakamkan di sana.

Perjuangan dan pengorbanan yang tidak mengenal lelah dapat menjadi contoh bagi generasi penerus bangsa. Atas perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada negara, Cut Nyak Dien dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional. (Annisa/Kidnesia/berbagaisumber)

comments powered by Disqus