Sabtu, 04 Juli 2015
Dul Muluk, Teater Tradisional Palembang
  • Dul Muluk, Teater Tradisional Palembang
dul muluk 1

Pementasan dul muluk serupa lenong. Foto: palembangdalamsketsa.blogspot

Kidnesia.com - Dul muluk adalah teater tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan . Konon, seni pertunjukan ini bermula dari syair Raja Ali Haji, sastrawan yang pernah bermukim di Riau. Nah, karya sang raja ini terkenal dan menyebar hingga Palembang.

Suatu hari, seorang pedagang keturunan Arab, Wan Bakar, membacakan syair tentang Abdul Muluk di sekitar rumahnya di Tangga Takat, 16 Ulu. Acara itu menarik minat masyarakat sehingga semua orang datang berkerumun. Agar lebih menarik, pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang dan ditambah iringan musik.

Pertunjukan itu mulai dikenal sebagai dul muluk pada awal abad ke-20. Pada masa penjajahan Jepang sejak tahun 1942, seni rakyat itu berkembang menjadi teater tradisi yang dipentaskan dengan panggung. Kemudian, grup teater itu bermunculan dan dul muluk tumbuh dan digemari masyarakat.

Dalam dul muluk terdapat lakon, syair, lagu-lagu Melayu, dan lawakan. Adapun bentuk pementasan dul muluk serupa dengan lenong dari masyarakat Betawi di Jakarta. Akting di panggung dibawakan secara spontan dan menghibur. Penonton pun bisa membalas percakapan di atas panggung. Bedanya sudah pasti di bahasa yang digunakan. Kalau lenong menggunakan bahasa Betawi, dul muluk menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Palembang.

Dul muluk biasanya dipentaskan setiap ada pesta pernikahan. Kadang kala dul muluk bisa diadakan semalam suntuk. Meski sempat kehilangan pamor, dun muluk kini kembali dilestarikan oleh generasi muda melalui pementasan di sekolah-sekolah. Apakah sekolahmu pernah mementaskan dul muluk?

Sumber: Rambang Dangku

comments powered by Disqus